25 september 2011 di siang hari yang sangat terik terlihat di satu sudut terminal, segrombol orang yang terlihat resah menunggu bis dengan bawaan yang lumayan banyak. ya itulah hari pertama kali aku pergi ke jakarta untuk kuliah aku diantar oleh seluruh anggota keluarga inti minus ita. kami menaiki bis berwarna merah dengan tulisan Agra Mas. setelah perjalanan kurang lebih 1,5 jam sampailah kami di sebuah bangunan yang tampak suram dengan sebagian bangunan di depannya masih belum selesai di bangun. pada bangunan itu terdapat logo bertuliskan Asrama Kebidanan URINDO. yap itulah pertama kali aku menginjakan kakiku di asrama kebidanan yang akan aku tinggali selama 1 tahun kedepan. sesampainya disana aku disambut oleh ibu asrama dengan perawakan sedkit gempal dan berwajah ramah. ketika aku menaiki lantai dua asrama sudah ramai sekali keluarga dan para teman-teman sudah menempati kamar masing-masing.hampir semua kamar sudah terisi 4 orang atau full. sedangkan aku seorang diri diantar ibu asrama kedalam sebuah kamar bernomer 04 di atas daun pintunya. awalnya aku takut karna tinggal di kamar yang menurutku seram seorang diri tapi aku tidak mau mengkhawatirkan keluargaku akhirnya aku terima saja. aku dan keluargaku masuk kedalam kamar baru yang setahun kedepan akan aku tempati, kami bencengkerama sambil mereka memberi aku wejangan.
ketika kami asik mengobrol tiba-tiba ada suara tangisan seorang wanita. kamipun sepontan keluar kamar rupanya suara tangisan itu berasal dari salah satu mahasiswa yang akan di tinggal keluarganya pulang. bapakku dengan sok akrab menanyakan keluarganya dari mana asalnya. dan betapa kagetnya ternyata mahsiswi itu berasal dari daerah yang sama denganku. entah kenapa keluarga kami menjadi akrab, mahasiswi itupun memutuskan sekamar denganku. yap wanita dengan tinggi sepundak denganku berbadan sedikit berisi dan berkerudung itu bernama dewi farida. dialah teman pertama yang aku miliki di asrama. dia orangnya pendiam sekali. sore hari keluarga kami sudah pulang ke rumah akupun lapar dan ingin ke kantin tapi ketika aku berniat mengajak dewi ke kantin dia malah menangis terus, akupun menahan laparku karena tidak tega meninggalkan dewi sendirian di kamar.
seketika suasana sangat hening, tiba-tiba datang seorang wanita yang terlihat lebih dewasa dari kami. anak periang dan menurutku sok akrab. yap berbeda dengan dewi yang super pendiam wanita ini riang sekali dan dengan mudah akrab denganku. dia orangnya asik, lucu sedikit tomboy dan bawaan yang di bawanya sama denganku hanya baju dan satu koper kecil saja, berbeda dengan teman-teman lainnya sampai berkoper-koper. itulah awal pertemuanku dengan Titis narlina. nama yang menurutku unik di dengar, seorang dengan logat jawa yang khas, berasal dari lampung, dan betubuh langsing dan cenderung kurus (viss unie (^_^)v) itu teman kedua yang aku miliki di asrama.
semenjak kedatangan titis suasana di dalam kamar nomer 04 menjadi hidup dan akupun punya teman ngobrol yang asik. ketika kami sedang asik merapihkan baju kedalam lemari, suara kegaduhanpun terdengar. kamipun kaget ketika segerombolan orang dengan menggunakan bahasa jawa yang kental datang dengan beberapa koper dan berkardus-kardus barang. rupanya mereka keluarga yang mengantar seorang mahasiswa bernama yeni fitria. wanita yang berasal dari kota yang sama dengan titis ini, bertubuh sedikit berisi bawa barang bawaannya bagaikan mau membuka pasar swalayan di asrama, semua barang dari baju sampai barang-barang toko klontong dia bawa semua.. aku dan titis hanya menatap dengan heran pada gadis itu. kamipun makin terheran-heran ketika ibunya yeni mengeluarkan botol kecil yang berisikan cairan dan menciprat-cipratkannya ke dalam kamar mandi dan kamar kami sambil mengucapkan doa entah apalah itu... yap itulah pertemuan pertama kami dengan yeni.